
Di tengah riuhnya Pasar Desa Sukamaju, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bima. Bima sangat suka membantu ibunya berjualan kue cucur. Setiap pagi, ia selalu datang ke pasar dengan semangat.
Namun, akhir-akhir ini, Bima merasa sedikit sedih. Keluarga Pak Tani, penjual sayur di sebelahnya, selalu terlihat akrab. Mereka saling membantu membungkus sayur, bercanda, dan tertawa bersama. Sementara Bima dan keluarganya, terasa seperti terpisah.
“Ibu, kenapa ya mereka selalu akrab? Kita kok tidak seperti mereka?” tanya Bima lirih.
Ibunya tersenyum lembut. “Bima sayang, setiap keluarga punya cara sendiri untuk bersilaturahmi. Kita juga sering membantu tetangga lain, kan?”
Suatu hari, Pak Tani terlihat kesulitan mengangkat keranjang sayur yang berat. Tanpa ragu, Bima segera membantu. “Ayo, Pak, biar Bima bantu!” serunya.
Pak Tani tersenyum lebar. “Wah, baik sekali kamu, Bima! Terima kasih banyak.”
Ibu Bima juga ikut membantu membawakan beberapa sayur. Mereka bertiga bekerja sama dengan riang. Setelah selesai, Bu Tani menawarkan kue cucur buatan Ibu Bima kepada Pak Tani. “Ini, Pak, kue cucur hangat dari Ibu Bima. Semoga Bapak suka.”
Pak Tani menerima kue itu dengan senang hati. “Terima kasih, Bu. Rasanya enak sekali!”
Sejak saat itu, Bima mulai sering mengobrol dengan Bu Tani dan Pak Tani. Ia belajar membantu mereka membungkus sayur dan menata dagangan. Bima menyadari, keakraban tidak harus selalu sama. Yang penting adalah saling membantu dan peduli satu sama lain.
Bima tersenyum. Ia merasa bahagia karena kini keluarganya juga semakin dekat dengan keluarga Pak Tani. Pasar Desa Sukamaju terasa semakin hangat dan penuh kebersamaan. Bima mengerti, rukun bertetangga itu penting, dan bisa dimulai dengan hal-hal kecil seperti membantu sesama.
“Terima kasih ya, Bima,” kata Bu Tani sambil mengelus rambut Bima. “Kamu anak yang baik dan penyayang.”
Komentar
Posting Komentar