
Di sebuah kampung yang asri, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Budi. Budi sangat senang bermain dengan teman-temannya di jalan kampung. Setiap menjelang Lebaran, kampung mereka selalu mengadakan lomba membuat ketupat. Tahun ini, Budi punya ide berbeda.
“Kita buat ketupat yang sangat besar, teman-teman! Agar kampung kita terkenal!” seru Budi dengan semangat.
Rina, sahabatnya, menggelengkan kepala. “Ketupat besar? Itu sulit sekali, Budi. Kita tidak punya daun ketupat yang cukup. Lebih baik kita buat ketupat biasa saja, seperti tahun-tahun lalu.”
Budi bersikeras. “Tidak! Kita harus mencoba. Kalau kita bekerja sama, pasti bisa!”
Debat kecil terjadi. Pak Joko, tetangga mereka yang bijaksana, datang menghampiri. “Ada apa, anak-anak?” tanyanya lembut.
Budi dan Rina menjelaskan ide mereka. Pak Joko tersenyum. “Ide Budi bagus, tapi ide Rina juga penting. Membuat ketupat besar memang butuh banyak kerja sama. Bagaimana kalau kita gabungkan? Kita buat beberapa ketupat sedang, tapi dihias dengan sangat meriah?”
Budi dan Rina saling pandang. Ide Pak Joko terdengar masuk akal. Mereka pun setuju. Semua anak di kampung ikut membantu. Ibu Ani, yang terkenal pandai menghias, mengajari mereka membuat hiasan dari janur dan bunga.
Dengan semangat gotong royong, mereka membuat beberapa ketupat sedang yang cantik dan unik. Saat lomba tiba, ketupat-ketupat itu menjadi pemenang! Semua orang di kampung bangga dengan hasil kerja sama mereka.
Budi belajar bahwa bekerja sama itu lebih baik daripada bersikeras dengan ide sendiri. Rina pun belajar untuk lebih terbuka terhadap ide-ide baru. Dan kampung mereka semakin erat persaudaraannya.
Komentar
Posting Komentar