
Di Desa Asri, hiduplah seorang anak perempuan bernama Kirana. Ia sangat menyukai tarian, terutama tarian Topeng Panji yang merupakan warisan leluhur desa. Setiap tahun, Desa Asri mengadakan lomba tarian Topeng Panji untuk melestarikan tradisi. Tahun ini, Kirana sangat ingin ikut serta, tetapi ia merasa takut.
“Aku takut, Ibu. Bagaimana kalau aku salah gerak? Bagaimana kalau aku tidak bisa tampil sebaik yang lain?” keluh Kirana pada ibunya.
Ibunya tersenyum lembut. “Kirana sayang, tidak ada yang sempurna. Yang penting adalah kamu berusaha dan menikmati tarianmu. Ingat, tradisi ini adalah warisan kita, dan dengan menarinya, kamu sudah menjaga tradisi itu.”
Hari lomba tiba. Kirana melihat banyak anak-anak lain yang terlihat percaya diri. Ia semakin merasa gugup. Saat namanya dipanggil, jantung Kirana berdebar kencang. Ia mulai menari, tetapi kakinya terasa berat dan tangannya gemetar. Ia hampir saja salah gerak.
Tiba-tiba, ia merasakan sentuhan lembut di punggungnya. Itu adalah Bima, sahabatnya. Bima memberikan semangat dengan senyumnya. Kirana menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan tariannya. Ia berusaha mengingat semua gerakan yang telah ia pelajari.
Bima tidak hanya menyemangati Kirana, tetapi juga membantu mengingatkannya gerakan-gerakan yang terlupa. Dengan bantuan Bima, Kirana berhasil menyelesaikan tariannya dengan baik. Tepuk tangan meriah membahana di seluruh desa.
Meskipun Kirana tidak memenangkan lomba, ia merasa sangat bahagia. Ia telah berani tampil di depan banyak orang dan menjaga tradisi Topeng Panji. Ia juga belajar bahwa saling membantu itu penting. “Terima kasih, Bima. Aku tidak akan bisa melakukannya tanpamu,” kata Kirana sambil tersenyum.
Bima menjawab, “Sama-sama, Kirana. Kita harus saling membantu untuk menjaga tradisi kita.”
Sejak saat itu, Kirana semakin bersemangat untuk belajar menari Topeng Panji dan selalu siap membantu teman-temannya yang kesulitan. Ia tahu, menjaga tradisi adalah tanggung jawab bersama.
Komentar
Posting Komentar