
Di sebuah kampung adat yang asri, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bima. Bima dikenal suka bermain, tapi kadang lupa menjaga barang tetangga. Di dekat rumahnya, ada rumah Kakek Jaya, seorang pembuat wayang yang baik hati. Di depan rumah Kakek Jaya, ada sebuah rumah kura-kura kecil yang menjadi tempat tinggal berbagai macam alat wayang.
Suatu hari, Bima sedang asyik bermain bola. Tanpa sengaja, bolanya mengenai rumah kura-kura, membuat beberapa alat wayang berjatuhan. Kakek Jaya yang melihat kejadian itu, merasa sedikit kesal. “Bima, lain kali bermainnya jangan di dekat rumah kura-kura ya. Alat-alat wayang ini penting untukku,” kata Kakek Jaya dengan nada lembut, namun tegas.
Bima hanya menunduk malu. Ia merasa bersalah, tapi terlalu takut untuk meminta maaf. Ia terus bermain, berusaha melupakan kejadian itu. Namun, hatinya tidak tenang. Ia teringat pesan ibunya, “Keberanian adalah kunci untuk memperbaiki kesalahan.”
Malam harinya, Bima memberanikan diri menghampiri rumah Kakek Jaya. Dengan wajah penuh penyesalan, ia berkata, “Kakek, maafkan Bima ya. Bima tidak sengaja. Bima janji tidak akan bermain bola di dekat rumah kura-kura lagi.”
Kakek Jaya tersenyum hangat. Ia mengelus kepala Bima. “Bima memang anak yang baik. Kakek maafkan. Yang penting Bima belajar dari kesalahannya. Gotong royong dan saling menjaga adalah cara kita menjaga kebersamaan di kampung ini.”
Sejak saat itu, Bima selalu ingat untuk menjaga barang tetangga dan meminta maaf jika melakukan kesalahan. Ia belajar bahwa meminta maaf membutuhkan keberanian, tetapi akan membawa kehangatan dan persahabatan yang erat.
Komentar
Posting Komentar