
Mentari pagi menyapa Desa Damai. Embun masih menempel di ujung rumput sawah, berkilauan seperti permata. Di tengah sawah yang luas, terlihatlah Kakek Jaya, seorang petani tua yang bijaksana. Ia sedang mengawasi cucunya, Budi, yang tampak kebingungan.
“Kakek, aku tidak tahu harus mulai dari mana,” keluh Budi sambil menatap gundukan tanah yang harus ia garap. “Sawah ini luas sekali, dan aku belum pernah mengerjakan sawah sendirian.”
Kakek Jaya tersenyum lembut. “Bekerja di sawah memang tidak mudah, Budi. Tapi, ingat pesan Ibu, gotong royong itu kekuatan kita. Kita tidak bisa melakukan semuanya sendiri.”
Tiba-tiba, Ibu Ratih, ibu Budi, datang menghampiri. Ia membawa beberapa teman Budi, Dina dan Roni. “Budi, ini teman-temanmu. Kita akan bekerja bersama hari ini,” kata Ibu Ratih.
Awalnya, Budi merasa canggung. Ia belum pernah bekerja dengan teman-temannya. Dina dan Roni juga tampak ragu-ragu. “Bagaimana cara kita membagi pekerjaan ini, ya?” tanya Dina.
Kakek Jaya memberikan ide. “Kita bagi saja sawahnya menjadi beberapa bagian. Dina dan Roni mengerjakan bagian pertama, Budi mengerjakan bagian kedua, dan Ibu Ratih membantu di bagian ketiga. Nanti, setelah selesai, kita saling membantu untuk menyelesaikan semuanya.”
Mereka mulai bekerja. Dina dan Roni dengan semangat menggemburkan tanah. Budi mencoba mengikuti, tapi ia masih kesulitan. Ia merasa lelah dan ingin berhenti. “Aku tidak kuat, Kakek,” keluhnya.
Kakek Jaya mendekat dan menepuk pundak Budi. “Jangan menyerah, Budi. Ingat, kita bekerja bersama. Dina dan Roni akan membantumu.” Dina dan Roni kemudian menghampiri Budi dan membantunya menggemburkan tanah. Mereka saling menyemangati dan tertawa bersama.
Setelah beberapa saat, giliran Budi yang membantu Dina dan Roni. Mereka bekerja dengan riang gembira. Sawah yang luas itu terasa lebih ringan karena mereka bekerja bersama. Pak Darmo, tetangga mereka, juga ikut membantu membawa bibit padi. “Semangat, anak-anak! Hasil panen nanti akan manis karena kita bekerja dengan hati,” ujarnya.
Akhirnya, seluruh sawah berhasil mereka garap. Mereka merasa lelah, tapi juga bangga. “Terima kasih, Kakek, Ibu, Dina, dan Roni. Aku jadi tahu, bekerja bersama itu lebih menyenangkan,” kata Budi.
Kakek Jaya tersenyum. “Ingat selalu, Budi. Gotong royong adalah tradisi baik yang harus kita jaga. Dan jangan lupa, hormatilah orang tua karena mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk kita.”
Matahari semakin tinggi. Mereka semua pulang dengan hati gembira, menantikan panen yang melimpah.
Komentar
Posting Komentar