
Di sebuah desa yang asri, di tepi sungai yang jernih, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Banyu. Banyu dikenal sebagai anak yang cerdas dan lincah, namun ia seringkali merasa ragu pada dirinya sendiri. Suatu hari, desa mereka akan mengadakan lomba membuat perahu dari bambu. Semua warga bersemangat, termasuk Pak Karta, seorang tukang kayu yang ahli.
Banyu ingin sekali ikut, tapi ia takut gagal. “Aku tidak bisa, Pak,” gumam Banyu pada Pak Karta. “Aku takut perahuku tidak kuat mengarung sungai.” Pak Karta tersenyum bijak. “Banyu, membuat perahu memang tidak mudah, tapi dengan gotong royong, semua bisa diatasi. Jangan takut mencoba!”
Banyu akhirnya memberanikan diri. Ia meminta bantuan Mbok Sri, seorang penenun kain yang terampil, untuk membantu mengikat bambu. Ia juga meminta bantuan Dika, sahabatnya yang kuat, untuk mengangkat bambu-bambu besar. Awalnya, Banyu merasa canggung, tapi dengan semangat gotong royong, mereka bekerja sama dengan riang.
“Ayo, Dika, bantu aku angkat bambu ini!” seru Banyu. “Siap, Banyu! Kita harus bekerja keras agar perahu kita kuat!” jawab Dika dengan semangat.
Mbok Sri dengan sabar mengajari Banyu cara mengikat bambu dengan kuat. “Ingat, Banyu, ikatlah dengan hati-hati dan sopan. Setiap simpul adalah harapan kita agar perahu ini bisa berjalan dengan lancar,” pesan Mbok Sri.
Hari lomba tiba. Perahu-perahu dari bambu berjejer di tepi sungai. Banyu merasa gugup, tapi ia teringat pesan Pak Karta, Mbok Sri, dan Dika. Ia menarik napas dalam-dalam dan berdoa. Ketika tiba gilirannya, Banyu mendorong perahunya ke sungai. Perahu itu melaju dengan mulus! Ia melambai kepada warga desa yang menyemangatinya.
Perahu Banyu memang tidak menjadi yang tercepat, tapi ia berhasil mencapai garis akhir dengan selamat. Banyu tersenyum lebar. Ia belajar bahwa dengan gotong royong dan sopan santun, tidak ada yang mustahil. Ia juga belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan awal dari pengalaman baru.
“Terima kasih, Pak Karta, Mbok Sri, dan Dika. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa sampai di sini,” ucap Banyu dengan tulus. Pak Karta mengangguk bangga. “Banyu, kamu sudah hebat! Kamu telah menunjukkan semangat gotong royong dan sopan santun yang mulia.”
Komentar
Posting Komentar