
Di sebuah jalan kampung yang ramai, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bima. Bima adalah anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-temannya. Suatu hari, Bima melihat Rumah Bu Sarni, tetangga mereka, terlihat berantakan. Atapnya bocor dan dindingnya mulai retak.
Bima menghampiri Bu Sarni. “Bu, kenapa rumah Ibu terlihat seperti itu?” tanya Bima dengan sopan. Bu Sarni tersenyum sedih. “Atap rumahku bocor, Bima. Aku sudah tua dan tidak kuat untuk memperbaikinya sendiri,” jawab Bu Sarni.
Bima berpikir sejenak. Ia lalu berlari mencari teman-temannya, Cika dan Dika. “Teman-teman, rumah Bu Sarni bocor! Kita harus bantu!” seru Bima.
Cika dan Dika segera mengangguk setuju. Mereka bertiga kemudian mengajak teman-teman kampung lainnya. “Ayo, teman-teman! Bantu kita perbaiki rumah Bu Sarni!” ajak Bima.
Awalnya, beberapa anak ragu. Tapi Bima terus meyakinkan mereka. “Dengan gotong royong, pekerjaan berat akan terasa ringan. Kita bisa membantu Bu Sarni agar rumahnya kembali nyaman,” kata Bima.
Akhirnya, semua anak setuju. Mereka bekerja sama dengan semangat. Ada yang mencari kayu, ada yang mengaduk semen, ada yang membantu membersihkan puing-puing. Bahkan, Pak Joko, ayah Bima, ikut membantu dengan keahliannya memperbaiki atap. Bu Sarni hanya bisa tersenyum haru melihat kebersamaan anak-anak.
“Terima kasih, anak-anakku. Kalian semua sangat baik,” ucap Bu Sarni dengan mata berkaca-kaca.
Setelah beberapa jam bekerja keras, rumah Bu Sarni akhirnya selesai diperbaiki. Atapnya kembali kokoh dan dindingnya tampak lebih rapi. Semua anak bersorak gembira. Mereka merasa senang karena bisa membantu tetangga yang kesulitan.
Bima, Cika, Dika, dan teman-temannya belajar bahwa dengan gotong royong, semua masalah bisa diatasi. Mereka juga belajar tentang pentingnya saling membantu dan menjaga keharmonisan di lingkungan sekitar. Mereka semua merasa bahagia karena bisa menjadi tetangga yang rukun.
“Rumah Bu Sarni sudah seperti baru lagi!” seru Cika.“Iya, dan kita semua hebat karena sudah bekerja sama!” timpal Dika.
Komentar
Posting Komentar