Sapuan Kasih di Mushola Tua

Di sebuah desa yang tenang, matahari pagi menyapa dengan hangat. Hari ini adalah hari Jumat, waktu di mana warga kampung berkumpul untuk menjaga tradisi gotong royong. Mila, seorang anak perempuan yang rajin dan penyabar, melangkah riang menuju mushola kampung yang sudah berdiri sejak zaman kakek-neneknya dulu.

Sesampainya di sana, Mila mendapati halaman mushola yang dipenuhi dedaunan kering dan debu yang menebal. Ia sadar, membersihkan mushola adalah cara menjaga warisan leluhur agar tetap nyaman digunakan beribadah. Dengan lembut, ia mengambil sapu lidi yang sudah tua dan mulai mengumpulkan daun-daun satu per satu.

Awalnya, Mila merasa lelah. Debu beterbangan dan sinar matahari mulai menyengat kulitnya. Ia sempat ingin berhenti dan pulang ke rumah karena pekerjaan terasa lambat selesai. Namun, ia teringat pesan ibunya bahwa membersihkan rumah ibadah membutuhkan kesabaran yang luas, seperti luasnya langit di atas desanya.

Mila menarik napas panjang, menenangkan pikirannya, dan kembali menyapu dengan telaten. Ia tidak terburu-buru. Ia menikmati setiap sapuan lidinya yang menghasilkan bunyi khas di atas lantai keramik yang dingin. Meski hanya seorang diri, ia merasa ditemani oleh semangat kebersamaan warga kampung yang selalu menjaga tradisi warisan nenek moyang mereka.

Setelah sekian lama, halaman itu kini tampak bersih dan asri. Bau harum tanah basah dan aroma wangi dari karpet mushola yang baru saja ia jemur membuat hatinya terasa damai. Mila duduk sejenak di teras kayu mushola, mengusap peluh di keningnya. Ia sadar bahwa hasil yang indah tidak akan terwujud tanpa sikap sabar dalam prosesnya.

Mila tersenyum bangga. Dengan menjaga kebersihan mushola ini, ia merasa telah ikut menjaga tradisi kasih sayang dan kerukunan di kampung halamannya. Kini, mushola siap menyambut warga untuk menunaikan salat Jumat dengan khusyuk dan nyaman.

Komentar